Jangan Ketinggalan! Mulai Bisnis Online Sekarang Juga

ecommerce

21 Apr Jangan Ketinggalan! Mulai Bisnis Online Sekarang Juga

Masih teringat di kepala saya dulu ketika pertama kali membangun Bukalapak di tahun 2010 setelah lulus dari ITB, hampir seluruh orang di sekeliling saya skeptis dengan yang namanya Internet Business, apalagi e-commerce.

Saya pun sampai tidak enak bila ditanya saudara atau keluarga kerja dimana, saya selalu menjawab “lagi interview di perusahaan X, Y, Z” yang semuanya perusahaan top.

Tapi saya memang keras kepala, saya tetap yakin bahwa Bukalapak adalah masa depan kami. Kami bermimpi bahwa usaha-usaha offline yang ada suatu saat akan online, belanja pun juga akan online semua. Apapun akan terkoneksi dengan internet di masa depan.

Sambil mencoba tidak mendengar apa kata orang, sejak Bukalapak live, kita mulai bekerja mengajak siapapun yang punya usaha untuk bergabung, ada yang di mall, di pasar sampai via internet di Facebook, Forum, Twitter semuanya kita ajak.

Waktu kami dari pagi sampai tengah malam habis untuk mengajak berbagai kalangan usaha untuk bergabung Bukalapak. Seringkali kami tidur di garasi kecil kami di bilangan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Weekend kami pun diisi dengan membangun Bukalapak.

Tidak dianggap

Yang menarik dari perjuangan kami bukan cerita-cerita kami di atas tentunya, ada sekelumit cerita sukses di luar sana yang jumlahnya jauh lebih besar. Dari ribuan kalangan usaha yang kami ajak, justru yang tertarik dan antusias bergabung adalah yang usahanya masih kecil-kecil alias baru memulai.

Sementara banyak sekali usaha besar atau yang sudah established, terutama di mall-mall yang tidak tertarik untuk bergabung dengan Bukalapak. Mereka sudah nyaman dengan Mall offline mereka yang dengan duduk-duduk saja bisa mendapatkan pembelian tanpa bersusah-payah packing, melayani customer siang malam, dan mengirim barang seperti di online.

Sementara yang baru memulai usaha ini memang struggle kondisi mereka. Mereka tidak memiliki lapak offline kebanyakan, kalaupun memiliki mungkin di rumah mereka dan itu pun kecil sekali. Mereka juga umumnya tidak memiliki dana untuk menggaji SPG atau customer service.

Pertumbuhan kelompok usaha-usaha baru dan kecil ini semakin membesar dari hari ke hari, di tahun pertama kami berdiri, kami memiliki 10 ribu pengusaha online. Tahun kedua 30 ribu dan hingga kini kami memiliki 190 ribu, jumlah yang membuat kami geleng-geleng. Mereka bak virus. Mungkin kalau mereka dikumpulkan sekarang, dua stadion Gelora Bung Karno penuh.

Jumlah mereka yang besar selalu menjadi bahan jualan kami entah ke partner ataupun investor. Partner kami yang umumnya korporasi bank atau perusahaan kartu kredit menganggap usaha-usaha kecil yang ada di Bukalapak ini terlalu kecil, sehingga kita terpaksa tidak bisa membuka jalur pembayaran yang canggih yang mereka miliki.

Dari sisi investor juga sama, banyak yang menanggapi masa depan e-commerce/internet bukan di usaha baru dan kecil (padahal jualan kami itu). Mereka memandang membesarkan usaha kecil tidak akan ada untungnya, marjinnya kecil apalagi mereka susah diatur. Investor lebih senang jualan barang langsung atau berhubungan dengan usaha yang sudah established yang memiliki karyawan dan toko banyak serta modal kuat, lebih banyak untungnya, dan bisa monopoli.

Kami ditolak mentah-mentah oleh banyak investor dalam perjalanan kami karena alasan-alasan di atas. Namun kami bertekad, pasti ada yang spesial dari usaha baru dan kecil-kecil ini sehingga jumlahnya bisa sebegitu besar dan tumbuh bak virus. Kami percaya suatu saat mereka bisa besar.

Dunia yang setara

Animo kelompok-kelompok usaha baru atau kecil yang begitu besar kepada Bukalapak ini membuat kami selalu penasaran dan mencari tahu siapa mereka ini. Kenapa mereka juga sekeras kepala kami, pantang menyerah dan antusias sekali menjalani dunia online ini.

Salah satu temuan kami adalah, mereka menilai, hanya lewat internet lah peluang mereka untuk hidup dan bertahan. Mereka tidak memiliki banyak resource untuk bisa bertahan di dunia offline.

Di dunia online, performance individu lebih dilihat bukan penampilan atau letak lokasi yang strategis yang umumnya mahal. Tak jarang kami menemui top seller yang hanya memiliki kamar kecil sekali yang jauh berbeda dengan kenyamanan di Mall.

Tapi pembeli online tetap lebih memilih layanan yang baik, pengiriman yang cepat dan tepat waktu, barang yang jujur sesuai dengan yang digambarkan. Mereka bahkan tidak pernah melihat muka pelapak yang berjualan, cukup melihat track record pelapak tersebut lewat feedback.

Inilah era baru, era dimana usaha-usaha baru alias kecil tumbuh cepat dan akan terus tumbuh subur. Era yang merupakan berkah bagi entrepreneur-entrepreneur muda Indonesia yang mayoritas 90% usahanya kecil untuk bisa sedikit naik kelas. Mereka bisa membuka pasar yang sangat lebar tidak hanya nasional, tapi juga internasional.

Internet harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh usaha-usaha kecil yang lain untuk berkembang, atau tergilas dimakan zaman.

 

Sumber : detik.com

Komentar Anda